Sejarah Runtuhnya Kerajaan Majapahit

53padepokan-majapahit-b

 

 

Berikut penguasa Kerajaan Majapahit hingga berdirinya Kesultanan Demak yang didirikan oleh Raden Patah putra Kertawijaya (Brawijaya I) dari selir yang berasal dari Cina (menurut ”Babad Tanah Jawi”) pada tahun 1478, dan menurut “Pararaton”, Kertawijaya sendiri adalah putra Wikramawardhana-Raja Majapahit ke V dari selir,

1293-1309 Raden Wijaya, ibukota di tepi Kali Brantas (Kabupaten Sidoarjo)
1309-1328 Jayanagara
1328-1350 Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi (Bhre Kahuripan)
1350-1389 Hayam Wuruk (Rajasanagara) – Patih Gajah Mada wafat tahun 1364
1389-1429 Wikramawardhana, ibukota pindah ke Trowulan (Kab. Mojokerto)
1429-1447 Ratu Suhita
1447-1451 Kertawijaya (Brawijaya I), bapak dari Raden Patah-pendiri Demak
1451-1453 Rajasa Wardhana (Brawijaya II)
1453-1456 terjadi kekosongan penguasa Majapahit
1456-1466 Girisawardhana (Brawijaya III)
1466-1468 Singhawikramawardhana (Bhre Pandanalas-Brawijaya IV)
1468-1478 Bhre Kertabumi (Brawijaya V)

Kerajaan Majapahit yang didirikan pada tahun 1293 oleh Raden Wijaya mulai kehilangan pengaruhnya bersamaan dengan kematian cucunya Hayam Wuruk pada tahun 1389. Setelah kematiannya, suatu periode panjang kekacauan politik tampaknya berlangsung (Vlekke, 2008)

Hal ini juga diperkuat oleh pendapatnya Ricklefs (2008), yang menyebutkan ada beberapa sebab yang menyebabkan runtuhnya Majapahit diantaranya, (1) Perang saudara yang terjadi sekitar tahun 1405-1406 atau yang dikenal sebagai Perang Paregreg, (2) Pemberontakan yang dilakukan oleh seorang bangsawan Majapahit (Bhre Kertabumi) tahun 1468 dan (3) Ekspansi Kesultanan Demak ke wilayah-wilayah Majapahit baik di pesisir maupun pedalaman Pulau Jawa.

Perang Paregreg adalah perang antara Majapahit istana barat yang dipimpin Wikramawardhana, melawan istana timur yang dipimpin Bhre Wirabhumi.

Sebelumnya diketahui bahwa Kerajaan Majapahit berdiri tahun 1293 berkat kerja sama antara Raden Wijaya dan Arya Wiraraja. Pada tahun 1295, Raden Wijaya membagi dua wilayah Majapahit untuk menepati janjinya semasa perjuangan. Sebelah timur diserahkan pada Arya Wiraraja dengan ibu kota di Lumajang

Pada tahun 1316 Jayanagara putra Raden Wijaya menumpas pemberontakan Nambi di Lumajang. Setelah peristiwa tersebut, wilayah timur bersatu dengan wilayah barat. Namun demikian pada tahun 1401, Istana Timur dan Istana Barat mengalami perselisihan kembali yang kemudian menyebabkan Perang Paregreg. Majapahit Barat berhasil mengalahkan Istana Timur pada tahun 1406 ketika pasukan barat dipimpin Kertawijaya putra Wikramawardhana menyerbu pusat kerajaan timur.

Setelah Perang Paragreg, daerah-daerah bawahan di luar Jawa banyak yang lepas tanpa bisa dicegah karena kekuatan militer Majapahit diprioritaskan untuk menghadapi perang saudara. Misalnya, tahun 1405 daerah Kalimantan Barat direbut kerajaan Cina. Lalu disusul lepasnya Palembang, Melayu, dan Malaka yang tumbuh sebagai bandar-bandar perdagangan ramai, yang merdeka dari Majapahit. Kemudian lepas pula daerah Brunei yang terletak di Pulau Kalimantan sebelah utara.

Sebab kemunduran Majapahit lainnya adalah terjadi pemberontakan/kudeta yang dilakukan oleh Bhre Kertabumi terhadap Bhre Pandanalas (Brawijaya IV) pada tahun 1468 yang waktu itu merupakan Raja Majapahit yang ke 10. Bhre Pandanalas mundur menyingkir ke Kediri dan meneruskan pemerintahannya dari sana. Dengan demikian pada saat itu ada dua kekuasaan kembar Majapahit yang berpusat di Trowulan-Mojokerto dan yang berpusat di Kediri.

Ketika Bhre Pandanalas wafat pada tahun 1474, ia digantikan oleh putranya Girindawardhana Dyah Ranawijaya. Ia bertekad membalaskan dendam ayahnya kepada Bhre Kertabumi. Tahun 1478 ia menyerang Trowulan-Mojokerto Bhre Kertabumi berhasil dibunuh oleh tentara Ranawijaya dan ia pun naik takhta sebagai Raja Majapahit ke 12 atau menurut Hasan Djafar (2009), Girindawardhana Dyah Ranawijaya adalah sebagai Raja Majapahit terakhir. Keadaan politik Majapahit akibat perang saudara yang berlarut-larut itu menjadi semakin tidak stabil dan menyebabkan kekuatan Majapahit semakin melemah.

Berdirinya Kesultanan Demak pada tahun 1478 oleh Raden Patah putra Brawijaya I (Raja Majapahit ke 7) dan ekspansi-ekspansi yang dilakukannya di daerah pesisir dan pedalaman Pulau Jawa, menambah suramnya Kerajaan Majapahit dan menyebabkan terkikisnya kekuasaan Majapahit satu per satu (kecuali Blambangan yang masih dapat bertahan). Beberapa ekspedisi penaklukan diantaranya :

(1) Tuban ditaklukan tahun 1527
(2) Madiun ditaklukan tahun 1530
(3) Pasuruan ditaklukan tahun 1543
(4) Kediri dan Malang ditaklukan tahun 1545
(5) Panarukan ditaklukan tahun 1546; dan
(6) Gunung Penanggungan ditaklukan tahun 1550

Namun secara politik Majapahit sudah lumpuh sekitar tahun 1519. Ini adalah pendapat dari seorang penulis Italia Antonio Pigafetta yang menulis buku ”Primo Viaggio Intorno al Mondo” pada tahun 1922. Dalam bukunya ia menulis,

”Magepaher (when its king was alive, he was the most powerful in all those islands, and his name was Raia Patiunus)” yang artinya kurang lebih, ”Majapahit (rajanya yang bernama Pati Unus, ketika masih hidup, ia adalah raja yang paling berkuasa)” (lihat ”Masa Akhir Majapahit”, hal. 113).

Sebagaimana diketahui Pati Unus adalah Sultan Demak II yang memerintah tahun 1518 hingga tahun 1521. Kekeliruan Pigafetta disini adalah, ia mengira Pati Unus adalah salah satu Raja Majapahit.

Pustaka :

(1) Masa Akhir Majapahit. Hasan Djafar. Komunitas Bambu. 2009.
(2) Nusantara. Bernard H.M.Vlekke. Kepustakaan Populer Gramedia. 2008.
(3) Sejarah Indonesia Modern. M.C.Ricklefs. Serambi. 2008.
(4) http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit
(5) http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Paregreg

Kategori:Uncategorized

Makna Caru, Segehan dan Tawur

Banten yang berfungsi sebagai badan adalah banten ayaban. Sedangkan bante yang berfungsi sebagai kaki atau suku adalah Banten yang berada dipanggungan yang letaknya dijaba. Adapun Banten Caru merupakan simbol dari perut. Kemudian berdasarkan lapisan yang menyusun tubuh manusia yakni: Badan Kasar atau Sthula Sarira yang terdiri dari Panca Maha Bhuta, Badan Astral atau Suksma Sarira yang terdiri dari Alam Pikiran (Citta, Budhi, Manah, Ahamkara, atau Sattwam Rajas Tamas) serta Sang Hyang Atman sebagai sumber kehidupan. Jika lapisan ini dikaitkan dengan keberadan bebanten, maka banten yang mewakili Panca Maha Butha ini adalah banten yang suguhan seperti: banten soda atau ajuman, rayunan perangkatan dan sebagainya. Sedangkan banten yang berfungsi sebagai penguatan yang dijabarkan dalam berbagai bentuk pengharapan dan cita-cita adalah banten sebagai Suksma Sarira seperti banten Peras, Penyeneng, Pengambyan, Dapetan, Sesayut dan sebagainya. Sedangkan banten yang berfungsi sebagai pengurip atau pemberi jiwa seperti Banten Daksina, Banten Guru, Banten Lingga adalah merupakan simbol atman. Banten sebagai Warna Rupaning Ida Bhatara dapat dimaknai sebagai suatu bentuk pendalaman Sraddha terhadap Hyang Widhi. Mengingat Beliau yang bersifat Nirguna, Suksma, Gaib, dan bersifat Rahasia, tentu sirat yang demikian itu sulit untuk diketahui lebih-lebih untuk dipahami. Oleh karenanya untuk memudahkan komunikasi dalam konteks bhakti maka Beliau yang bersifat Niskala itu dapat dipuja dalam wujud Sakala dengan memakai berbagai sarana, salah satunya adalah Banten. Adapun Banten yang memiliki kedudukan sebagai perwujudan Hyang Widhi adalah banten-banten yang berfungsi sebagai Lingga atau Linggih Bhatara seperti: Daksina Tapakan (Linggih), Banten Catur, Banten Lingga, Peras, Penyeneng, Bebangkit, Pula Gembal, Banten Guru dan sebagainya. Banten sebagai Anda Bhuvana dapat dimaknai bahwa banten tersebut merupakan replica dari alam semesta ini yang mengandung suatu tuntunan agar umat manusia mencintai alam beserta isinya. Sesuai ajaran Weda, bahwa Tuhan ini tidak hanya berstana pada bhuvana alit, Beliau juga berstana pada bhuvana agung anguriping sarwaning tumuwuh. Sehingga dalam pembuatan banten itu dipergunakanlah seluruh isi alam sebagai perwujudan dari alam ini. Adapun banten sebagai lambang alam semesta ini adalah: Daksina, Suci, Bebangkit, Pula Gembal, Tanam Tuwuh dan sebagainya.**
Mecaru (upacara Byakala) adalah bagian dari upacara Bhuta Yadnya (mungkin dapat disebut sebagai danhyangan dalam bhs jawa) sebagai salah satu bentuk usaha untuk menetralisir kekuatan alam semesta ) Panca Maha Bhuta.

Mecaru, dilihat dari tingkat kebutuhannya terbagi dalam:
Nista ~ untuk keperluan kecil, dalam lingkup keluarga tanpa ada peristiwa yang sifatnya khusus (kematian dalam keluarga, melanggar adat dll)
Madya ~ selain dilakukan dalam lingkungan kekerabatan/banjar (biasanya dalam wujud tawur kesanga, juga wajib dilakukan dalam keluarga dalam kondisi khusus, pembangunan merajan juga memerlukan caru jenis madya
Utama ~ dilakukan secara menyeluruh oleh segenap umat Hindu (bangsa) Indonesia

Biasanya ayam berumbun (tri warna?) digunakan sebagai pelengkap panca sata, urutan penempatan caru (madya) panca sata adalah sebagai berikut:
ayam putih timur
ayam merah/biing selatan
ayam putih siungan barat
ayam hitam/selem utara
ayam brumbun tengah

Caru, dalam bahasa Jawa-Kuno (Kawi) artinya : korban (binatang), sedangkan ‘Car‘ dalam bahasa Sanskrit artinya ‘keseimbangan/keharmonisan’. Jika dirangkaikan, maka dapat diartikan : Caru adalah korban (binatang) untuk memohon keseimbangan dan keharmonisan.
‘Keseimbangan/keharmonisan’ yang dimaksud adalah terwujudnya ‘Trihita Karana’ yakni keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama manusia (pawongan), dan dengan alam semesta (palemahan).
Bila salah satu atau lebih unsur-unsur keseimbangan dan keharmonisan itu terganggu, misalnya : pelanggaran dharma/dosa, atau merusak parahyangan (gamia-gamana, salah timpal, mitra ngalang, dll), perkelahian, huru-hara yang merusak pawongan, atau bencana alam, kebakaran dll yang merusak palemahan, patut diadakan pecaruan.Kenapa dalam pecaruan dikorbankan binatang ? Binatang terutama adalah binatang peliharaan/kesayangan manusia, karena pada mulanya, justru manusia yang dikorbankan. Jadi kemudian berkembang bahwa manusia digantikan binatang peliharaan.Terlebih dulu perlu kiranya dijelaskan batasan-batasan yang disebut segehan, caru, maupun tawur:

Segehan
Segehan ini adalah persembahan sehari-hari yang dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya tidak mengganggu.
Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.
Bahan utamanya adalah nasi berwarna beberapa kepal.
Yang umum segehan: putih dan kuning.
Dalam Lontar Carcaning Caru, penggunaan ekasata (kurban dengan seekor ayam yang berbulu lima jenis warna, di Bali disebut ayam brumbun, yakni: ada unsur putih, kuning, merah, hitam, dan campuran keempat warna tadi) sampai dengan pancasata (kurban dengan lima ekor ayam masing-masing dengan bulu berbeda, yakni unsur putih, kuning, merah, hitam, dan campuran keempatnya, sehingga akhirnya juga menjadi lima warna) ini masih digolongkan segehan **khusus untuk kelengkapan piodalan saja, sehingga memiliki fungsi sebagai runtutan proses piodalan (ayaban atau tatakan piodalan) yang memilki kekuatan sampai datang piodalan berikutnya.
Caru
Sedangkan pancasanak sampai dengan pancakelud dalam lontar Carcaning Caru tersebut mulai digolongkan sebagai caru yang berfungsi sebagai pengharmonis atau penetral buwana agung (alam semesta), di mana caru ini bisa dikaitkan dengan proses pemlaspas maupun pangenteg linggihan pada tingkatan menengah (madya).
Usia caru ini 10-20 tahun, tergantung tempat upacara.
Penyelenggaraan caru juga dapat dilaksanakan manakala ada kondisi kadurmanggalan dibutuhkan proses pengharmonisan dengan caru sehingga lingkungan alam kembali stabil.

Tawur
Adapun yang digolongkan tawur dimulai dari tingkatan balik sumpah sampai dengan marebu bumi—sesuai dengan yang tersurat dalam lontar Bhama Kertih digolongkan sebagai upacara besar (utama) yang diselenggarakan pada pura-pura besar.
Tawur ini memiliki fungsi sebagai pengharmonis buwana agung (alam semesta).
Adapun tawur ini memiliki kekuatan mulai dari 30 tahun, 100 tahun (untuk eka dasa rudra), dan 1000 tahun untuk marebu bumi.
Adapun tawur dilaksanakan pada tingkatan utama, baik sebagai pangenteg linggih maupun upacara-upacara rutin yang sudah ditentukan oleh aturan sastra atau rontal pada berbagai pura besar di Bali. Tawur ini memiliki makna sebagai pamarisuddha jagat pada tingkatan kabupaten/kota, provinsi, maupun negara.

Kembali terusik ingin tahu apakah yang dimaksud caru, segehan dan tawur dalam suatu upacara…….sekali lagi saya mengetes kesaktian “bli google” dan melalui sebuah blog, rasa ingin tahu saya terjawab.

Pengertian Banten Caru, Banten Caru, BANTEN dalam lontar Yajna Prakrti memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sakral. Dalam lontar tersebut banten disebutkan: Sahananing Bebanten Pinaka Raganta Tuwi, Pinaka Warna Rupaning Ida Bhattara, Pinaka anda Bhuvana. Dalam lontar ini ada tiga hal yang dibahasakan dalam wujud lambang oleh banten yaitu: “Pinaka Raganta Tuwi” artinya banten itu merupakan perwujudan dari kita sebagai manusia. “Pinaka Warna Rupaning Ida Bhatara” artinya banten merupakan perwujudan dari manifestasi (prabhawa) Ida Hyang Widhi. Dan “Pinaka Andha Bhuvana” artinya banten merupakan refleksi dari wujud alam semesta atau Bhuvana Agung. Memaknai banten sebagai Raganta Tuwi ini dapat dijabarkan berdasarkan pembagian dari tubuh manusia seperti Ulu atau Kepala (Utama Angga), Badan (Madhyama Angga), Kaki atau Suku (Nistama Angga). Jika dihubungkan dengan Tri Angga ini maka banten yang memiliki fungsi sebagai ulu adalah banten yang berada di Sanggar Surya maupun Sanggar Tawang.

Kategori:Uncategorized

“OTONAN “Peringatan Hari Kelahiran Umat Hindu Bali

Oleh : I Wayan Ritiaksa, M.Ag, Denpasar.
Bali memang unik dan menarik bagi semua orang, tidak hanya Bangsa sendiri tetapi juga Bangsa-bangsa di seluruh dunia membicarakan tentang “Bali”. Salah satu keunikan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali dimanapun berada tidak pernah melupakan prihal; Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni; 6 (enam) bulan kali 35 hari = 210 hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Bali memang unik dan menarik bagi semua orang, tidak hanya Bangsa sendiri tetapi juga Bangsa-bangsa di seluruh dunia membicarakan tentang “Bali”. Salah satu keunikan yang sudah menjadi tradisi umat Hindu Bali dimanapun berada tidak pernah melupakan prihal; Otonan atau Ngotonin, yang merupakan peringatan hari kelahiran berdasarkan satu tahun wuku, yakni; 6 (enam) bulan kali 35 hari = 210 hari. Jatuhnya Otonan akan bertepatan sama persis dengan; Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Misalnya orang yang lahir pada hari Rabu, Keliwon Sinta, selalu otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap enam bulan sekali (210 hari).

Berbeda dengan peringatan hari Ulang Tahun yang hanya menggunakan perhitungan tanggal dan bulan saja, dengan mengabaikan hari maupun wuku pada tanggal tersebut. Misalnya seseorang yang lahir tanggal 10 Januari, maka hari ulang tahunnya akan diperingati tiap-tiap tanggal 10 Januari pada tahun berikutnya (12 bulan kalender).

Otonan diperingati sebagai hari kelahiran dengan melaksanakan upakara yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan dan bila upakaranya lebih besar dipuput aleh pemangku (Pinandita). Sarana pokok sebagai upakara dalam otonan ini ada1ah; biyukawonan, tebasan lima, tumpeng lima, gebogan dan sesayut.

Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam mengantarkan doa-doa otonan sering mempergunakan doa yang diucapkan yang disebut sehe (see) yakni doa dalam bahasa Bali yang diucapkan oleh penganteb upacara otonan yang memiliki pengaruh psikologis terhadap yang melaksanakan otonan, karena bersamaan dengan doa juga dilakukan pemberian simbol-simbol sebagai telah menerima anugerah dari kekuatan doa tersebut.

Sebagai contoh :

Melingkarkan gelang benang dipergelangan tangan si empunya Otonan, dengan pengantar doa : “Ne cening magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi” (Ini kamu memakai gelang benang, supaya ber otot kawat dan bertulang besi).

Ada dua makna yang dapat dipetik dari simbolis memakai gelang benang tersebut adalah pertama dilihat dari sifat bendanya dan kedua dari makna ucapannya. Dari sifat bendanya benang dapat dilihat sebagai berikut :

1. Benang memiliki konotasi beneng dalam bahasa Bali berarti lurus, karena benang sering dipergunakan sebagai sepat membuat lurus sesuatu yang diukur. Agar hati selalu di jalan yang lurus/benar.

2. Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus sebagai simbol kelenturan hati yang otonan dan tidak mudah patah semangat.

Sedangkan dari ucapannya doa tersebut memiliki makna pengharapan agar menjadi kuat seperti memiliki kekuatannya baja atau besi. Disamping kuat dalam arti fisik seperti kuat tulang atau ototnya tetapi juga kuat tekadnya, kuat keyakinannya terhadap Tuhan dan kebenaran, kuat dalam menghadapi segala tantangan hidup sebab hidup ini bagaikan usaha menyeberangi samudra yang luas. Bermacam rintangan ada di dalamnya, tak terkecuali cobaan hebat yang sering dapat membuat orang putus asa karena kurang kuat hatinya.

Dalam rangkaian upacara otonan berikutnya sebelum natab, didahului dengan memegang dulang tempat sesayut dan memutar sesayut tersebut tiga kali ke arah pra sawia (searah jarum jam) dengan doa dalam bahasa Bali sebagai berikut: “Ne cening ngilehang sampan, ngilehang perahu, batu mokocok, tungked bungbungan, teked dipasisi napetang perahu “bencah” (Ini kamu memutar sampan, memutar perahu, batu makocok, tongkat bungbung, sampai di pantai menemui kapal terdampar).

Dari doa tersebut dapat dilihat makna:

1. “Ngilehang sampan ngilehang perahu” bahwa hidup ini bagaikan diatas perahu yang setiap hari harus kesana-kemari mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidup ini. Badan kasar ini adalah bagaikan perahu yang selalu diarahkan sesuai dengan keinginan sang diri yang menghidupi kita.

2. “Batu makocok” adalah sebuah alat judi. Kita teringat dengan kisah Pandawa dan Korawa yang bermain dadu, yang dimenangkan oleh Korawa akibat kelicikan Sakuni. Jadi hidup ini bagaikan sebuah perjudian dan dengan tekad dan keyakinan yang kuat harus dimenangkan.

3. “Tungked bungbungan” (tongkat berlobang) adalah bambu yang dipakai kantihan yakni sebagai penyangga keseimbangan samping perahu agar tidak mudah tenggelam karena bambu bila masih utuh memang selalu terapung. “Perahu hidup ini” jangan mudah tenggelam oleh keadaan, kita harus selalu dapat mengatasinya sehingga dapat berumur panjang sampai mempergunakan tongkat (usia tua).

4. “Teked dipasisi napetang perahu bencah” (sampai di pantai menemui perahu / kapal terdampar). Terinspirasi dari sistem hukum tawan karang yang ada pada jaman dahulu di Bali, yakni setiap ada kapal atau perahu yang terdampar di pantai di Bali, rakyat Bali dapat dengan bebas menahan dan merampas barang yang ada .pada kapal yang terdampar tersebut. Maksudnya supaya mendapatkan rejeki nomplok, atau dengan usaha yang mudah bisa mendapatkan rejeki yang banyak.

Demikian luhurnya makna doa yang diucapkan dalam sebuah upacara otonan bagi masyarakat Hindu Bali yang dikemas dengan simbolis yang dapat dimaknai secara fisik maupun psikologis, dengan harapan agar putra-putri yang menjadi tumpuan harapan keluarga mendapatkan kekuatan dan kemudahan dalam mengarungi kehidupan.

Warta Hindu Dharma No. 488 Agustus 2007.

Kategori:Uncategorized

Hindu Bali

Kategori:Uncategorized

Pelecehan Terhadap Agama Hindu

Kategori:Uncategorized

Tidak Hanya Sekedar Bicara

Image

K-Dex Chiko Stikom

Lahir di gianyar bali tepatnya pada desa tedung abianbase, pada tanggal 13 juli 1991. Bernama Asli Kadek Suastika. Kuliah di Akademi Manajemen Informatika & Komputer (AMIK) Tri Dharma Palu, jurusan Teknik Informatika. Kerja sebagai Staff Umum di kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tengah. Situs web yang bisa anda kunjungi adalah :

http://k-dexchikoamik.blogspot.com/

http://jiwakesatria.wordpress.com/

Image

Putu Shinoda

Bernama Asli I Putu Agus Eka Pratama. Beliau merupakan Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB). Kerja sebagai pengajar di STIKOM Indonesia (STIKI). Selain sebagai tenaga pengajar beliau juga aktif dalam pengembangan OS (Operasi Sistem) Linux. Situs web yang beliau miliki adalah :

http://bytescode.wordpress.com/

Image

Adi Paichi

Walaupun tampangnya seperti preman, namun sebenarnya dia sangat lembut. Nama Aslinya I Wayan Tirtayasa. Lahir Pada 27 mei 1988. Kuliah di Akademi Manajemen Informatika & Komputer (AMIK) Tri Dharma Palu. Jurusan Manajemen Informatika.

Image

Malin Dk

Merupakan putra bali yang berasal dari Mertajati (Tolai). Kuliah di Akademi Manajemen Informatika & Komputer (AMIK) Tri Dharma Palu. Jurusan Manajemen Informatika.

Kategori:Uncategorized

Hello world!

Juni 29, 2012 1 komentar

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Kategori:Uncategorized